Sriyono Abdul Qohar bersama anak didiknya di Paud KB Gembira Ria di Desa Sendangmulyo Kecamatan Ngawen, yang dia dirikan.

www.infoterkiniku.com  BLORA- Tidak ada kata menyerah dan pantang mundur. Itulah prinsip hidup yang dijalani Sriyono Abdul Qohar seorang penderita disabilitas tuna daksa dari Kabupaten Blora, Jawa tengah. Ditengah keterbatasannya, justru Sriyono Abdul Qohar mampu melakukan sesuatu yang sangat bermanfaatn untuk orang lain.  Dia adalah pendiri Paud KB Gembira Ria di Desa Sendangmulyo Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora. Paud itu satu satunya paud di desa tempat kelahiran Sriyono Abdul Qohar.

Mendirikan paud itu bukanlah hal yang mudah bagi Sriyono Abdul Qohar. Dia melalui perjuangan yang panjang dan  keras. Bahkan tindakan diskriminatif juga tak jarang diterima oleh Sriyono Abdul Qohar, namun itu menjadi cambuk bagi dirinya untuk terus maju hingga akhirnya mampu mendirikan sekolah sendiri dan gratis.
Sriyono Abdul Qohar mengungkapkan, alasannya mendirikan sekolah bukan tanpa sebab. Pasalnya,  Keinginannya menjadi seorang pendidik memang sudah lama, namun seolah terhalang dengan kondisi fisiknya. Sudah banyak sekolah yang ia datangi, namun tidak ada satupun yang mau menerimanya.

Sriyono Abdul Qohar bersama anak didiknya di Paud KB Gembira Ria di Desa Sendangmulyo Kecamatan Ngawen, yang dia dirikan.

“Saya lulusan sarjana pendidikan agama Islam. Lulus tahun 2009 dari STAIM Blora. Setelah lulus saya masukin lamaran di sejumlah sekolah, mulai MI, MTS, Hingga sekolah swasta lain. Tapi dari semua itu, Alhamdulillah saya belum diterima. Gak tahu kenapa, mungkin karena bentuk fisik saya,”  kata Sriyono saat ditemui di Paud KB Gembira Ria, Rabu (5/12).
Sriyono mengungkapkan rencana membangun sekolah muncul setelah adanya informasi dari bidan desa mengenai adanya pembangunan Paud dari pemerintah pusat.
Karena tertarik, lalu dirinya mengajukan proposal untuk mendirikan Paud.
“Dulu itu bidan desa kasih informasi kalau buat sekolah Paud saja. Tapi syaratnya harus dapat siswa 21, tapi waktu itu saya Alhamdulillah bisa dapat 23. Akhirnya saya langsung buat proposal dan langsung ACC,”  ungkapnya.
Setelah hampir 9 tahun berdiri, jumlah anak didik di Paudnya terus mengalami peningkatan. Tahun ini jumlah anak didiknya sudah mencapai 32 siswa. Sriyono pun tidak memungut biaya sepeserpun terhadap para siswanya.
“Kita sekolah gratis, tidak bayar sepeserpun. Para siswa hanya kita Bebani uang jajan 2 ribu setiap harinya. Uang itu nanti kita belikan jajan buat anak-anak dan sisanya kita gunakan untuk operasional sekolah,” papar Sriyono.
Selain menjabat sebagai kepala sekolah, Sriyono pun tak segan ikut membantu mengajar anak didiknya. Dibantu tiga  tenaga guru lainnya, Sriyono dengan sabar mendidik anak-anak warga desa.
Berkat kesabaran dan kedisiplinannya membuat para guru menaruh hormat kepadanya.
“Pak Sriyono ini orangnya bijaksana, juga sabar mendidik anak-anak. Padahal dia itu seorang bapak. Saya dulu sempat ragu kepada beliau, apakah mampu mengelola sekolah dengan kondisi fisiknya. Namun keraguan itu terbantahkan setelah saya 9 tahun mengajar disini. Dibalik kekurangannya ternyata mampu ia tutupi dengan kelebihannya,” ujar Titik Suharni, salah satu guru.

(sumber www.rmoljateng.com )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here