PERSELISIHAN dan percekcokan antara suami dan istri dalam sebuah rumah tangga adalah hal biasa. Namun kadar kualitas dan kuantitasnya satu sama lain pun berbeda beda. Dan masing-masing orang pun berbeda pula dalam menyikapi dan menyelesaikannya.

Awas hati-hati. Jangan sampai apa yang kita ucapkan itu berlebihan. Bahkan bisa menyebabkan kita bercerai (Talaq) dengan istri kita, padahal hal itu tidak kita kehendaki.

Anda jangan pernah bermain main dengan kata kata  “cerai” atau “talaq” dengan istrimu. Misal “Kamu Saya Cerai”, “Hari ini kamu saya Talaq”, dan lain lain. Karena meskipun anda tidak punya niat mencerai istrimu, namun karena ucapan itu kamu sudah Talaq atau cerai dengan istrimu.

Berikut hukum Talaq dan macam macam Talaq.

Hukum Talaq

Penting kiranya bagi kita, lelaki dan wanita, suami dan istri untuk mengetahui hukum talaq agar dapat membedakan antara talaq yang sah dan talaq yang tidak sah. Talaq itu mempu-nyai hukum-hukum tersendiri yaitu yang disebutkan di bawah ini:

  1. Wajib, kadang kala talaq itu wajib dilakukan yaitu talaqnya muli’ (orang yang bersumpah tidak akan mengumpuli istrinya), maka jika sudah berlalu 4 bulan, maka dikasih pilihan antara membatalkan, sumpah (dengan menyetubuhi istrinya) atau wajib mentalaqnya.  Dan juga talaq itu menjadi wajib apabila terjadi cekcok antara suami istri kemudian masing-masing mengutus utusan dari sanak keluarga, lalu mereka sepakat untuk memisahkan kedua suami istri tersebut.
  1. Sunnah, sunnah hukumnya mentalaq istri yang ti­dak mustaqimah (tidak istiqomah dalam melakukan kewajiban agama seperti meninggalkan sholat dan lain-lain)
  2. Makruh, makruh hukumnya mentalaq istri yang istiqomah.
  3. Haram, seperti talaq bid’i (mentalaq istri dalam keadaan haid atau suci setelah disetubuhi)
  4. Mubah, mubah adalah hukum asal mentalaq istri, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

أَبْغَضُ الْحَلاَلِ عِنْدَ اللهِ الطَّلاَقُ (رواه أبو داود)

Paling dibencinya pekerjaan halal oleh Allah adalah talaq. (H.R. Abu daud)

Syarat-syarat Jatuhnya Talaq

Syarat-syarat jatuhnya talaq adalah:

  1. Sang suami adalah seorang yang berakal, maka tidak sah talaqnya orang gila terhadap istrinya.
  2. Sang suami sudah mencapai batas baligh, maka tidak sah talaqnya suami yang belum mencapai batas baligh terhadap istrinya.
  3. Sang suami mentalaq istrinya dengan ikhtiyar (atas kemauannya), maka tidak sah talaqnya suami yangdipaksa untuk mencerai istrinya.

 

Kalimat Talaq Sharih dan Kalimat Talaq Kinayah

Yang dimaksud dengan kalimat talaq sharih adalah kalimat yang tidak digunakan kecuali untuk mentalaq istri. Kalimat-kalimat tersebut ada 3 macam:

  1. Kalimat talaq (اَلطَّلاَقُ)
  2. Kalimat cerai (اَلْفِرَاقُ)
  3. Kalimat istirahat (اَلسَّرَاحُ)

Adapun hukumnya jika suami mengucapkan kahmat tersebut kepada istrinya, maka istrinya telah terceraikan, baik suami itu BERNIAT menceraikannya atau TIDAK BERNIAT, seperti bergurau dan lain sebagainya.

Kalimat talaq kinayah adalah kalimat sindiran atau kalimat yang tidak to the poin, namun mengandung arti talaq dan lainnya, misalnya: “Pergilah kamu ke tempat ibumu”, “Susullah ibumu” atau “Pulanglah”, maka kalimat tersebut mengandung arti talaq dan arti sebenarnya. Adapun hukumnya jika suami mengucapkan kalimat tersebut dan yang semisal kepada istrinya, jika dia berniat menceraikan istri­nya maka jatulah talaq kepadanya, tapi jika tidak berniat maka tidaklah jatuh talaq.

Macam-macam Talaq

Talaq ada 3 macam:

  1. Talaq bid’i (Bid’ah)
  2. Talaq sunni (Sunnah)
  3. Talaq bukan bid’i dan bukan sunni

 

  1. Talaq Bid’i

Talaq bid’i adalah, mentalaq istri dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci setelah di setubuhi. Adapun hukum talaq bid’i adalah haram sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala,

…يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ

Apabila kamu menceraikan istri-istri kamu maka hendaklah kamu menceraikan mereka pada waktu mereka dapat iddahnya. (Q.S. Ath Thalaq:1)

Hal itu di karenakan akan memperpanjang ma-sa iddahnya, karena masa haidnya tidak dihitung masa iddah. Dan juga diharamkan mentalaq istri setelah menyetubuhinya karena mungkin saja setelah persetubuhan itu istrinya akan hamil, dan kadangkala seorang suami itu akan menyesal jika mentalaq istrinya yang sedang mengandung anaknya.

 

  1. Talaq Sunni

Talaq Sunni adalah mentalaq istri sesuai de­ngan anjuran syar’i, yaitu mentalaq istrinya bukan dalam keadaan haid dan bukan dalam keadaan suci setelah disetubuhi.

 

  1. Talaq Bukan Bid’i dan Bukan Sunni

Talaq Bukan Bid’i dan Bukan Sunni, adalah talaq yang tidak disebut bid’i dan sunni, yaitu talaqnya wanita di bawah ini:

  1. Talaqnya mukhtali’ah (wanita yang meminta talaq dari suaminya dengan imbalan).
  2. Talaqnya wanita kecil yang belum pernah mengalami haid.
  3. Talaqnya wanita monopause (yang sudah berhenti dari haid)
  4. Talaqnya wanita hamil.

Adapun hukumnya adalah mubah (tidak ha-ram).

Talaq Raj’i

Yang dimaksud dengan talaq raj’i adalah, thalaq yang boleh ruju’ (kembali) setelahnya, yaitu jika mentalaq istrinya dengan talaq satu atau dua tanpa imbalan. Dan perlu diketahui bahwa setiap laki-laki punya 3 hak talaq, jika dia talaq 1 maka tinggallah dua hak talaqnya dan begitu juga seterusnya. Jika ingin rujuk, jika masih dalam massa udah, suami cukup mengatakan ke istri mengajak rujuk, atau kalau tidak dengan ucapan suami mengajak istrinya berhubungan badan. ingat, saat Talaq Raj’i, suami dan istri itu masih tinggal satu rumah dengan tidur terpisah, dan suami masih punya kewajiban untuk menafkahi lahir.

 

Talaq Bain

Talaq bain terbagi menjadi 2 bagian:

  1. Bainunat Shughro, yaitu mentalaq istri yang belum disetubuhi dan juga mentalaq istri yang sudah di setubuhi tapi dengan khulu’ (cerai dengan imbal­an). Talaq Raj’i namu hingga massa idah habis belum rujuk.   Hukum talaq bainunat shughro Boleh bagi suaminya kembali lagi kepadanya akan tetapi dengan aqad nikah baru, dengan mahar baru, dan dia kembali kepada suaminya dengan sisa dari talaq suaminya, jika sisanya dua maka suami­nya punya hak talaq atas istrinya tinggal dua, dan begitu seterusnya.
  1. Bainunat Kubro, yang dimaksud dengan talaq bainunat kubro adalah mentalaq istri dengan tiga kali talaq, baik dengan imbalan ataupun tidak. Hukum talaq bainunat kubro. Adapun hukumnya adalah tidak boleh suami kem­bali kepada istrinya tersebut kecuali jika memenuhi 5 syarat di bawah ini:
  1. Menunggu sampai selesai iddahnya.
  2. Adanya muhallil, yaitu harus kawin dengan laki-laki lainnya.
  3. Muhalil itu harus menyetubuhinya walaupun sekali, bukan hanya aqad nikah saja.
  4. Dia telah ditalaq oleh muhallil (suaminya yang kedua).
  5. Selesai iddahnya dari suami yang kedua. Jika memenuhi syarat di atas boleh bagi suami pertama kembali kepadanya dengan aqad nikah baru dan kembali dia mempunyai hak talaq penuh ter­hadap istrinya yaitu tiga kali talaq.

 

Talaq Ta’liq

Yang dimaksud dengan talaq ta’liq adalah menggantungkan talaq istrinya kepada sesuatu, mi­salnya: “Jika kamu keluar rumah, maka kamu aku ta­laq.” Adapun hukumnya, jika sesuatu yang digantung­kan kepadanya terjadi, maka jatuhlah talaq atasnya. Akan tetapi terkadang talaq itu digantungkan kepada pekerjaannya sendiri, misalnya “Jika aku masuk ru­mah, maka kamu aku talaq”, atau dengan pekerjaan istrinya, misalnya “Jika kamubicara kepadanya maka aku talaq kamu”, atau pekerjaan kerabatnya atau sahabatnya yang peduli akan ta’liqnya (mengharap agar tidak terjadi talaq), misalnya “Jika kerabatku si fulan masuk rumah aku talaq kamu”. Maka di dalam tiga masalah ini jatuh talaqnya jika dilakukan sesuatu yang digantungkan itu, dengan sengaja dan ikhtiarnya (kemauannya), serta dia mengetahui akan ta’liqnya itu.

Dan tidak jatuh talaq jika dilakukan karena lupa atau terpaksa. Jika digantungkan talaqnya terhadap orang yang tidak peduli padanya (istrinya ditalaq atau tidak, dia tidak peduli), seperti atas orang yang tidak dikenal sebelumnya, maka jatuh talaqnya jika dia melakukan hal tersebut, baik dengan sengaja, lupa ataupun ter­paksa walaupun dia tidak mengetahuinya, misalnya “Jika musuhku masuk rumah maka aku talaq kamu.” Dan tidak akan batal ta’liq talaq tersebut seumur hidup, kapan dia mengerjakan maka jatuhlah thalaqnya, walaupun setelah waktu yang lama, dan tidak ada jalan keluarnya kecuali dengan talaq khulu’ lalu dia kembali kepadanya dengan aqad baru, maka batallah ta’liq tersebut dan tidak berlaku lagi.

 

Talaq Khulu’ (Talaq dengan Imbalan)

Talaq khulu’ adalah talaq dengan imbalan harta untuk sang suami, baik dari istri ataupun dari orang lain, misalnya seorang istri berkata kepada suaminya: “Kamu talaq aku dan aku beri imbalan berupa mobil”, maka jika disetujui sang suami, hukumnya jatuhlah talaq bainunat sughra yang boleh kembali setelah itu dengan aqad nikah baru.

Adapun hukum talaq itu sendiri adalah makruh kecuali dalam dua hal:

  1. Jika kedua orang tersebut (suami istri) takut tidak bisa melaksanakan hak-hak suami istri sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

…فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

Jika kamu khwatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. (Q. S. AlBaqarah: 229)

 

  1. Jika sang suami menggantungkan talaq istrinya de­ngan talaq tiga kepada sesuatu, yang mana sesuatu itu adalah sesuatu yang harus dilakukan dan dia tidak mau menceraikan istrinya atau menyesali ta­laq ta’liqnya, misalnya, “Jika kamu keluar maka talaq tiga”, maka jalan keluarnya adalah dengan talaq khulu’, sehingga dia keluar dari ta’liqnya, dan boleh bagi istrinya melakukan sesuatu yang digantungkan itu setelah aqad nikah baru.

 

Syarat-syarat Jatuhnya Talaq Khulu’

  1. Yang mensyaratkan harta itu adalah seorang yang baligh, aqil baik istri atau bukan kalau yang minta khulu’ itu istri yang gila atau belum baligh, maka talaqnya adalah talaq raj’i dan tidak sah khulu’nya.
  2. Imbalannya itu adalah yang memenuhi syarat barang yang boleh dijual belikan, seperti mobil, uang, rumah, dan lain sebagainya. Dan kalau imbalan­nya tidak memenuhi syarat, maka harus membayar mahar mitsil (maskawin kebanyakan wanita).
  3. Imbalan itu semata-mata untuk suami tetapi kalau kembali kepada orang lain misalnya sang suami berkata: “Jika kamu memberi uang si fulan Rp 100.000,- maka kamu aku talaq”. Lalu sang istri memberinya maka jatuhlah talaq raj’i, dan tidak sah talaq khulu’nya karena imbalan itu tidak kembali kepada suaminya.

Dan perlu di ketahui jika sang suami mentalaq istrinya tanpa menyebutkan talaq berapa, maka dihukumi jatuh talaq satu.

Demikian penjelasan mengenai Talaq. Semoga dapat memberikan pemahaman bagi para pembaca semua. Amiiinnnnn

(infoterkiniku.com dari berbagai sumber)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here